Kelahiran seorang anak membawa kebahagiaan besar bagi keluarga. Selain mempersiapkan kebutuhan bayi, orang tua Muslim juga memiliki perhatian terhadap amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sering dilakukan setelah kelahiran anak adalah aqiqah.
Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya mengenai hukum aqiqah, apakah termasuk kewajiban atau hanya anjuran dalam Islam. Pemahaman yang tepat mengenai hal ini penting agar keluarga dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan agama tanpa merasa terbebani.
Pengertian Aqiqah dalam Islam
Aqiqah merupakan ibadah berupa penyembelihan hewan ternak sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Biasanya, keluarga menyembelih kambing atau domba, kemudian membagikan dagingnya kepada kerabat, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan.
Dalam pelaksanaannya, aqiqah tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan. Ibadah ini juga mengandung nilai kepedulian sosial dan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat keturunan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa rasa syukur menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Oleh karena itu, aqiqah menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur atas karunia anak yang Allah SWT berikan kepada orang tua.
Hukum Aqiqah Menurut Para Ulama
Pembahasan mengenai hukum aqiqah memiliki beberapa pendapat di kalangan ulama. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah. Artinya, aqiqah sangat dianjurkan bagi orang tua yang memiliki kemampuan.
Sementara itu, sebagian ulama lain memiliki pandangan berbeda mengenai kedudukannya. Ada yang berpendapat bahwa aqiqah wajib apabila orang tua mampu melaksanakannya. Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa aqiqah memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam, meskipun mayoritas ulama tidak menetapkannya sebagai kewajiban mutlak.
Dengan demikian, orang tua yang mampu sebaiknya melaksanakan aqiqah sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Namun, keluarga yang belum memiliki kemampuan tidak perlu merasa berdosa karena Islam memberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah.
Dalil Hadis tentang Aqiqah
Rasulullah SAW memberikan contoh mengenai pelaksanaan aqiqah melalui beberapa hadis. Salah satunya terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bersama kelahiran seorang anak terdapat aqiqah, maka tumpahkanlah darah (sembelihlah hewan) untuknya dan hilangkanlah gangguan darinya.”
(HR. Bukhari)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakan aqiqah sebagai bentuk perhatian terhadap kelahiran anak.
Selain itu, hadis lain dari Imam Ahmad menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengaqiqahi cucunya, Hasan dan Husain, masing-masing dengan satu ekor kambing. Hal tersebut menjadi contoh bahwa aqiqah termasuk amalan yang memiliki nilai kebaikan bagi keluarga Muslim.
Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Pada umumnya, keluarga melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Waktu tersebut menjadi waktu yang paling utama berdasarkan hadis Rasulullah SAW.
Akan tetapi, apabila orang tua belum mampu melaksanakan pada hari ketujuh, mereka dapat melakukannya pada waktu lain. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memaksakan sesuatu di luar kemampuan.
Selain memperhatikan waktu, keluarga juga perlu memastikan hewan yang digunakan memenuhi syarat. Hewan aqiqah harus sehat, tidak memiliki cacat, dan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Ketentuan Jumlah Hewan Aqiqah
Dalam pelaksanaan aqiqah, terdapat perbedaan jumlah hewan antara anak laki-laki dan perempuan. Mayoritas ulama menganjurkan dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.
Namun, sebagian ulama memperbolehkan satu ekor kambing untuk anak laki-laki apabila kondisi orang tua tidak memungkinkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam selalu memberikan kemudahan kepada umatnya.
Selain itu, keluarga juga dapat menyesuaikan bentuk penyajian makanan sesuai kebutuhan. Sebagian memilih membagikan nasi kotak, sedangkan lainnya mengadakan acara makan bersama dengan keluarga dan tetangga.
Memilih Layanan Aqiqah yang Amanah
Saat ini, banyak keluarga menggunakan jasa aqiqah untuk membantu proses persiapan. Salah satu penyedia layanan yang dapat membantu kebutuhan masyarakat adalah Aqiqah Maidah Surabaya.
Layanan profesional seperti ini membantu keluarga mulai dari pemilihan hewan, pengolahan makanan, hingga penyediaan paket aqiqah. Dengan begitu, orang tua dapat menjalankan ibadah dengan lebih praktis tanpa harus mengurus seluruh persiapan sendiri.
Selain itu, keluarga perlu memilih layanan yang memperhatikan kualitas bahan makanan, kebersihan proses memasak, serta pelayanan yang terpercaya. Pemilihan jasa yang tepat membantu menjaga nilai ibadah sekaligus memberikan kenyamanan bagi keluarga.

Kesimpulan
Memahami hukum aqiqah membantu umat Muslim menjalankan ibadah dengan lebih baik. Aqiqah bukan hanya tradisi setelah kelahiran anak, tetapi juga bentuk syukur, kepedulian, dan usaha mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan, melaksanakan aqiqah menjadi kesempatan untuk mendapatkan keberkahan sekaligus berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Dengan dukungan layanan seperti Aqiqah Maidah Surabaya, proses persiapan dapat berjalan lebih mudah dan terencana.
